Sosok cantik Kartini modern dimata saya adalah Bunda Lia, seorang teman lama yang sekarang sedang sibuk merawat 2 anak laki-laki dan mengurusi kandang miliknya yang berisi bebek berjumlah lebih dari 100 ekor.
Usianya belum 30 tahun, dan dia sengaja membuat kandang bebek dengan alasan selain untuk diternakkan sebagai bebek potong dia juga berharap agar ilmu yang pernah dienyam di Institut Pertanian Bogor dapat bermanfaat.
Walaupun dia harus rela meninggalkan rumahnya sendiri yang nyaman di Sidoarjo lalu berpindah ke sebuah tanah kosong yang disulap menjadi beberapa sekat untuk tempat tinggal bebek-bebeknya dan disekat lainnya sebagai tempat tinggal keluarganya tetapi Bunda Lia sangat telaten. Panasnya hawa didalam rumah karena beratapkan asbes tak membuat Bunda Lia patah semangat. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya seorang Ibu yang bekerja sendirian mengurus bebek sekaligus merawat dua putranya, sedangkan Suaminya masih tercatat sebagai karyawan di sebuah kantor swasta, Bunda Lia harus bekerja keras agar bebek-bebek itu tidak mati kepanasan bila siang hari dan tidak mati kedinginan bila malam hari.
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes “Blogger Kartinian” bersama 21BloggerKartini”
Rabu, 25 April 2012
Peternak Bebek
Foto diatas adalah gambar teman saya yang bernama Bunda Lia. Bunda Lia ini disamping merawat 2 anak yang semuanya laki-laki juga mengurus kandang bebek miliknya yang berjumlah 100-an.
Bayangkan betapa repotnya Bunda Lia. Pagi-pagi dia sudah harus memberi makan bebek-bebeknya, siang sedikit sekitar jam 8-9 dia sudah menyalakan blower untuk mendinginkan bebeknya agar tidak kepanasan yang mengakibatkan bisa tiba-tiba mati.
Siang memberi makan bebeknya lagi, sore memberi vitamin dan malamnya menyalakan lampu untuk menaungi bebeknya agar tak mati kedinginan.
Sayang waktu saya potret Bunda Lia tak mau menoleh ke kamera katanya malu, mukanya berkeringat. Maklumlah, sejak mengurus bebek Bunda Lia tinggal di sebuah bangunan dari dinding triplek dan beratap asbes, sehingga hawanya panas sekali..
Kamis, 23 Februari 2012
Sayang ala Bang Thoyib
“Bang Thoyib-Bang Thoyib
kenapa tak pulang-pulang..”
Lirik diatas sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat kita. Beberapa saat yang lalu ketika masih booming-boomingnya, setiap saat setiap waktu lagu ini selalu terdengar dimana-mana. Sambil ngonthel becak, yang didengar lagu ini. Sambil liyer-liyer setengah ngantuk, yang disetel lagu ini. Sampai panggung lokal ala Sagita aja, yang dinyanyikan juga lagu ini.
Benar-benar fenomenal. Memang selain rancak musiknya lagu Bang Thoyib yang beraliran dangdut asoy ini sangat asyik dinikmati sambil ajeb-ajeb.
Ibarat orang sedang jatuh cinta, kalau sudah kadung cinta dengan satu gebetan, maka semuanya akan selalu diingat. Dari suaranya, namanya, gayanya, senyumnya, jalannya sampai detail jari kakinya juga diingat-ingat. Sambil senyum-senyum sendiri dan matanya merem-melek.
Itulah Cinta. Bila ada sesuatu yang menarik, maka akan selalu diperdengarkan kalau perlu sampai lirik dan nama penyanyinya dihapalkan juga fotonya dipajang dimana-mana.
Sayangnya, Bang Thoyib terlalu sibuk sehingga tak sempat mendengarkan lagu ini. Dia gak merasa bahwa anaknya memanggil-manggil nama nya terus. Dia juga gak merasa bahwa sudah 3 kali puasa dan 3 kali lebaran si Abang gak pulang kerumah, sekalipun para pendengar lagu ini membantu mencari kemana gerangan Bang Thoyib ini berada..
Barangkali saja, di perantauannya sana Bang Thoyib sedang sibuk bekerja sampai-sampai tak mengenal waktu dan tak mengenal kapan jadwalnya puasa dan lebaran..
Bang Thoyib bukanlah seorang penjaja cinta. Dimana cinta bisa dimiliki kapanpun walau terbatas oleh waktu. Tetapi rasa sayang sampai kapanpun dimiliki tak akan mengenal waktu. Bila rasa cinta dipadukan dengan rasa sayang maka akan menghasilkan buah kasih sayang yang tulus, ikhlas, saling membutuhkan dan saling memiliki.
Yang lain? Lewaatt..
Bang Thoyib mempunyai tekad besar bahwa suatu saat bila pulang nanti dia harus membawa sebongkah berlian untuk istrinya tercinta sebagai bukti rasa cinta dan sayang kepada keluarganya. Bang Thoyib yakin bahwa apa yang dilakukannya selama kepergiannya itu benar-benar untuk mencari nafkah demi istri dan anak-anaknya.
Seperti di lagunya Wali
sudah tunggu saja diriku di rumah
jangan marah-marah, duduk yang manis ya
aku lagi sibuk sayang, aku lagi kerja sayang
untuk membeli beras dan sebongkah berlian
Jadi..
Berita bahwa Bang Thoyib gak pulang-pulang bukan berarti Bang Thoyib ini gak sayang sama istri dan keluargaya. Justru dengan karena gak pulangnya itu Bang Thoyib ingin membahagiakan keluarganya.
Bayangkan, Bro.. sebongkah berlian! Se..Bo.. ng.. Kah..Be.. R..Li..An... ckck..
Ini semua bukti bahwa Bang Thoyib akan sepenuh hati menjaga, melindungi serta bertanggung jawab kepada istri dan keluarganya sampai kapan pun. Dan itu semua Bang Thoyib lakukan atas dasar sayang.
Bagai Berlian..
Selamanya dan Abadi..
Minggu, 05 Februari 2012
Rayuan tidak biasa
Rayuan tidak biasa
Sayangku..
Pulang kantor kau mau kemana?
Please ya jangan kemana-mana, pergi ke hatiku aja
Kasihku..
Aku tau Bapak kamu itu hobi mendaki gunung
Maka setiap melihatmu, hatiku bermekaran bagai bunga edelwais yang tak pernah layu
Cintaku..
Aku tau Ibumu seorang pemilik Catering
Oleh karenanya senyummu bagai Gurami asam manis yang memanjakan lidahku
Kekasihku aku sangat sayang kepadamu
Aku juga sangat mencintaimu
Dan aku akan selalu menyayangimu
Baru kusadari, ternyata kamu itu punya bakat jadi penabuh bedug masjid
Coba tanya kenapa?
Karena bila ada kamu disampingku dadaku selalu bertalu-talu
“Ungkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTML“
Jumat, 30 Desember 2011
Selimut Bayi
Aku percaya bahwa semua orang pasti memiliki barang yang mempunyai kenangan paling indah dalam hidup. Begitupun aku. Aku juga memiliki sebuah benda yang usianya lebih tua 3 tahun dari usiaku, dan hingga kini masih setia menemaniku.
Namanya Selimut bayi..
Hihi.. sebenarnya malu juga aku buka disini, karena kalau ketahuan orang pasti diledek: "Ih.. wes gerang kok isih ngempeng"
Selimut itu awalnya milik kakakku, katanya Ibu kado dari seseorang sewaktu bayi dulu. Setelah itu gak tau bagaimana ceritanya sampai selimut itu aku pakai. Dulu waktu SD sih masih sering aku pakai untuk selimutan kalau tidur, makin bertambah umur rasanya selimut itu makin sempit. Iseng-iseng aku lipat-lipat selimut itu sampai tebal dan bisa dielus-elus. Kainnya yang lembut membuat aku betah berlama-lama dengannya, apalagi kalau sudah penuh daki dan hitam-hitam begitu, makin lembut aja kalau dibelai-belai..
Kalau sudah dekil banget baru dicuci. Itupun dengan satu syarat, harus kering hari itu juga, kalau nggak kering biasanya aku 'glibak-glibek' dikasur gak bisa tidur.
Kini kondisi selimut itu sudah sobek dimana-mana, maka untuk mengurangi sobek yang bertambah besar, biasanya aku buka lipatannya dan membaliknya.. butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi dengan lipatan baru karena kalau dipegang masih kasar..
Ini nih gambarnya:
Tuh kan sobeknya sudah kemana-mana, harus makin berjati-hati nih megangnya, gak ada gantinya soalnya, beli juga ga ada yang sama persis seperti itu..
Namanya Selimut bayi..
Setelah dilipat-lipat bentuknya seperti ini, biasanya selimut ini menemaniku saat tidur. Kalau sudah begitu biasanya Ibuku menyebutku sedang 'ngempeng'
Hihi.. sebenarnya malu juga aku buka disini, karena kalau ketahuan orang pasti diledek: "Ih.. wes gerang kok isih ngempeng"
Selimut itu awalnya milik kakakku, katanya Ibu kado dari seseorang sewaktu bayi dulu. Setelah itu gak tau bagaimana ceritanya sampai selimut itu aku pakai. Dulu waktu SD sih masih sering aku pakai untuk selimutan kalau tidur, makin bertambah umur rasanya selimut itu makin sempit. Iseng-iseng aku lipat-lipat selimut itu sampai tebal dan bisa dielus-elus. Kainnya yang lembut membuat aku betah berlama-lama dengannya, apalagi kalau sudah penuh daki dan hitam-hitam begitu, makin lembut aja kalau dibelai-belai..
Kalau sudah dekil banget baru dicuci. Itupun dengan satu syarat, harus kering hari itu juga, kalau nggak kering biasanya aku 'glibak-glibek' dikasur gak bisa tidur.
Kini kondisi selimut itu sudah sobek dimana-mana, maka untuk mengurangi sobek yang bertambah besar, biasanya aku buka lipatannya dan membaliknya.. butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi dengan lipatan baru karena kalau dipegang masih kasar..
Ini nih gambarnya:
Tuh kan sobeknya sudah kemana-mana, harus makin berjati-hati nih megangnya, gak ada gantinya soalnya, beli juga ga ada yang sama persis seperti itu..
Sabtu, 24 Desember 2011
Ngakak di Kebun Tebu
Foto ngakak ini berada di areal Kebun Tebu, Peterongan Jombang.
Saya ngakak keras itu berawal ketika saya ingin difoto dengan gaya melompat di udara. Sepertinya keren banget kalau di foto dengan gaya melompat, apalagi di tengah areal Kebun Tebu.
Sayang dari beberapa action melompat semuanya gak ada yang bener, maklum pakai kamera HP. Jadi penerimaan hasilnya agak lambat.
Alhasil karena sudah jeprat-jepret beberapa kali gak ada yang bener, saya dan Suami sebagai juru foto ikut tertawa..
Ini hasil foto lainnya:
Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes 'Ayo Ngakak Sejenak'! oleh Mbak Fanny Sang Cerpenis Bercerita dan Man and The Moon 'Al Kahfi'
Sabtu, 12 November 2011
Dear Pahlawanku: Pahlawanku yang cantik
Surabaya, 12
November 2011
Assalamu ‘Alaikum
Pahlawanku..
Pahlawanku
yang sedang menawar cabe..
Apa kabarnya
disana. Saat ini engkau pasti sedang bingung menawar cabe yang harganya sedang
tak jelas karena pengaruh fluaktif. Ah engkau pasti bingung ya apa itu fluaktif.
Sudah biarkan saja jangan terlalu dipikirkan, itu hanya bahasaku saja yang sok
pintar, yang penting sekarang adalah
engkau memikirkan harga kebutuhan dapur agar bagaimana caranya supaya pelanggan
setiamu merasa terjangkau untuk membelinya. “Mendapat untung menjual cabe Rp.
250,- itu Alhamdulillah katamu?” Masya Allah.. berapa harga semangatmu bangun
pukul 2 pagi?
Pahlawanku yang
sedang menenteng belanjaan..
Aku tau
bahwa sebenarnya apa yang sedang engkau kerjakan itu berat. Berat sekali. Baik itu
berat dipundak juga berat di perasaanmu. Tapi bagaimana cara supaya aku membantumu?
Tawaranku saja selalu engkau tolak.
Permintaanku
agar engkau istirahat dan tak perlu lagi repot-repot menjual sayuran selalu
engkau abaikan dengan alasan “dari pada nganggur”, sedangkan pendapatannya saja
jauh dari harapan. Yah aku tahu Pahlawanku, mengumpulkan duit recehan itu
memang berat, karena memang duit receh itu berat dibanding duit kertas yang
meskipun nilainya sangat jauh lebih besar itu juga terlampau gampang untuk didapatkannya,
apalagi kalau mempunyai channel, tinggal menyetikkan ujung kelingking saja,
sebuah project dengan hasil besar pasti didapatkan, ssttt.. tapi hasil besar
kalau yang didapatkan tidak halal buat apa ya, masih mending duit receh yang
bila dimakan menghasilkan daging, ya nggak Pahlawanku? Ah kok jadi ngomongin halal haram sih, bingung
ya Pahlawanku, maaf deh maaf..
Pahlawanku
yang sedang sibuk mengkaitkan belanjaan di setir sepeda..
Saat ini
engkau pasti sedang sibuk mengatur belanjaan agar semuanya terangkut diatas
sepeda angin tuamu itu. Dengan peluh di dahi serta tarikan nafasmu yang kencang
ditambah senyum sapa mu kepada beberapa orang yang engkau kenal wajahmu tampak
semakin cantik. Gurat-gurat usiamu pun juga tertutupi oleh sinar temaram lampu
petromax, Ah.. makin anggun saja engkau.. Sayangnya saat itu aku tak ada
disampingmu. Dan celakanya aku malah asik bergumul dengan selimut dan kasur,
betapa kurang ajarnya aku..
Pahlawanku yang sibuk melayani pembeli..
Betapa aku
bahagia melihat senyumanmu, dengan kotak mini music agel yang kubelikan
beberapa hari lalu itu setiap pagi menjadi teman setiamu yang kadang terdengar
ceramah agama diselingi sholawat, dan kadang malah suara meliuk-liuknya Meggy
Z, Ah sungguh teganya diriku..diriku..diriku.. pada dirimu.. Sialnya aku malah
asik kucek-kucek mata.
Pahlawanku yang cantik..
Sungguh
besar sekali jasamu kepadaku. Engkau yang didepanku jarang sekali mengeluh,
meski kadang dibelakang aku sering mendengar keluhanmu. Tapi setiap kali aku
tanya “Ada apa?” engkau selalu menjawab dengan “Tidak ada apa-apa..” mengapa
sih engkau selalu menyembunyikan sesuatu dariku? Apa karena engkau tak mau
membebaniku? Atau karena engkau tak mau melihatku sedih? Ah pahlawanku mengapa
harus begitu, lalu kapan engkau memberi aku kesempatan untuk membahagiakanmu?
Pahlawanku..
sebenarnya aku ingin sekali bisa membahagiankanmu, selalu melihatmu tersenyum,
tapi alangkah jahatnya aku, justru akulah yang selalu membuatmu menangis dan
bersedih. Di saat engkau ada, aku selalu yang menyibukkan diri dengan komputer
dan internet, bukan indomie telur kornet itu.. tapi internet yang ini, yang
bisa aku ber haha hihi didalamnya, sedangkan engkau malah kubiarkan menonton TV
sendirian. Tapi disaat engkau sedang tidak dirumah malah aku yang kelabakan
mencarimu. Meskipun masakan lengkap sudah kau siapkan dimeja tapi tanpa
kehadiranmu, hidupku terasa gersang pahlawanku..
Pahlawanku..
aku tak bisa berkata banyak kepadamu selain Trima kasih.. trima kasih.. dan
trima kasih yang tak terhingga. Meskipun disini aku tulis kata trima kasih
sampai 3 kali tapi seandainya engkau mendengarnya langsung pasti engkau akan
tertawa, tertawa meremehkan tentunya karena kata trima kasih bagimu itu sangat
pamali. Makanya tak kuucapkan langsung agar tak kau remehkan, aku tulis saja di
surat ini, mumpung ada kontes. Kapan lagi aku bisa mengucapkan kata trima kasih
untukmu..
Aku hanya
bisa berdoa semoga engkau selalu diberi umur yang bermanfaat. Bermanfaat bagiku dan juga bagi anak-anakmu yang lain. Diberi
kesehatan dan rejeki barokah yang melimpah.
“Allahummaghfirlii
waliwalidayya warhamhuma kama robbaya nishoghiiro.. Amiin”
Wassalamu ‘Alaikum
Pahlawanku
Postingan ini diikut sertakan dalam Konteas Dear Pahlawanku yang diselenggarakan oleh Lozz, Iyha dan Puteri
Sponsored by :
Blogcamp|LittleOstore|Tuptoday|Lozzcorner|Rumahtramoiey
Langganan:
Postingan (Atom)










