Kamis, 18 Oktober 2012

Aku dan PLN: Harapanku PLN Bersih, Listrikku Terang, Masyarakat senang

Suatu hari di rumah saudaraku...

“Bu.. Bu.. Di depan gang ada mobil biru dibodi sampingnya ada lambang petir merah dengan dasar kuning ada gelombangnya parkir di tepi jalan. Emang rumah siapa Bu yang listriknya dicabut sama PLN?” Teriak Rini sambil tergesa masuk rumah mencari Ibunya, sengaja sepatunya tidak Ia lepas karena diserang rasa penasaran. Tasnya masih terpeluk dipunggungnya lalu tangan kanannya membekap erat buku pelajaran. Ketika itu aku sedang menemani Mbak Is, kakak iparku yang juga Ibunya Rini menyiapkan makan siang yang seketika mendongak ketika melihat kedatangan Rini.

“Kamu ini datang-datang bukannya membaca salam tapi malah su’udzon kepada PLN. Mobil PLN itu kesini bukan mau nyabut tapi mau memasang listrik untuk pelanggan pasang baru ” jawab Ibunya yang sedang menyiapkan nasi dan lauk di meja makan. Aku hanya tersenyum melihat sikap Rini.

“Eh, ada Tante. Gimana kabarnya Tan?” sapa Rini seraya memegang jariku dan menaruh punggung tanganku di pipinya.

“Kabar baik, Rin. Baru pulang sekolah?”

“Iya, Tan!” jawab Rini riang.

“Siapa yang pasang listrik baru, Bu?” Tanya Rini kepada Ibunya. Dari suaranya terdengar kaget bercampur senang. “Tumben.. hari gini ada yang pasang listrik baru, Biasanya juga kalau ada petugas PLN datang itu artinya ada tetangga kita yang telat bayar listrik lalu dicabut listrik rumahnya” Rini membuka kulkas lalu menuangkan air dingin dari botol kaca ke dalam gelas, beberapa detik kemudian kesegaran sudah menyirami tenggorokannya.

sebelah kanan meja makan terdapat televisi yang sedang menayangkan berita siang yang kali itu sedang memberitakan bahwa PLN berkomitmen menegakkan Good Corporate Governance (GCG).

“Sst.. diam dulu, dengarkan berita di TV itu....” seru Mbak Is. Aku, Mbak Is, dan Rini langsung diam. Suasananya seketika senyap. Hanya suara perempuan yang membacakan berita dengan intonasi resmi.
Rini duduk di kursi sembari tangan kanannya memegang gelas. Tangan kirinya sibuk membuka simpulan tali sepatunya lalu dengan cekatan melepas kaos kaki dari kedua tungkainya. Aku mengambil sepotong tahu goreng hangat dipiring yang sejak tadi melambai sambil menggigit cabe rawit. Kemudian turut larut mendengarkan berita di TV.

“Pemirsa, baru-baru ini PT PLN membuat komitmen baru dengan berupaya menegakkan GCG atau Good Corporate Governance dalam diri perusahaannya. Dengan komitmen ini diharapkan PLN bisa memerangi praktek korupsi, kolusi dan nepotisme di masyarakat. Upaya ini dilakukan oleh PT PLN Persero selaku Perusahaan Listrik Negara yang telah berdiri sejak Oktober 1945 itu demi melayani masyarakat sebagai pelanggan PLN secara adil dan terbuka. Dengan sistem yang baik ini diharapkan masyarakat mendapat kepuasaan dalam mendapatkan hak-haknya sebagai pengguna listrik sesuai yang diharapkan banyak orang.

Sebagai bentuk Implementasi tersebut PLN menggandeng kerjasama dengan jaringan organisasi global anti korupsi Transparency International Indonesia (TII). Kerjasama ini bertujuan untuk lebih memastikan bahwa PLN dalam menjalankan usahanya menyediakan listrik bagi masyarakat luas, sungguh-sungguh menerapkan GCG dan anti korupsi. Kerjasama yang dibangun meliputi reformasi dalam Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) serta reformasi disisi pelayanan pelanggan.

PT PLN, yang sesuai motto nya“Listrik Untuk kehidupan yang lebih baik” juga berusaha membantu masyarakat yang akan pasang listrik baru dengan meminimalkan waktu daftar tunggu. Hal ini dikarenakan bahwa banyak masyarakat yang mengeluhkan lamanya pasang baru listrik sehingga membuat banyak calon pelanggan yang membuat jalur ‘curang’ untuk mendapatkan aliran listrik ke rumahnya”....



“Jadi begitu, Rin. Sekarang ini PLN sedang mengadakan reformasi tata kelola perusahaan menjadi lebih baik” komentar Mbak Is, Ibunya Rini, beberapa saat setelah tayangan beritanya berganti tema.

“Lalu kenapa baru sekarang, Bu, PLN mengadakan reformasi? Kenapa tidak dari dulu?”

“Rin, mengelola Perusahaan sebesar PLN itu tidak mudah, apalagi PLN selama ini ‘sendirian’ saja menjadi ‘suplier’ listrik di masyarakat seluruh Indonesia sehingga wajar saja bila PLN perlu perencanaan matang untuk benar-benar melakukan perbaikan sistem. PLN tidak saja harus memikirkan kendala dilapangan yang berhubungan dengan hajat orang banyak tetapi juga PLN juga harus berpikir bagaimana cara agar mendapatkan energi dari alam yang cukup sebagai penghasil listrik sehingga pemadaman listrik di masyarakat tidak sering terjadi. Apalagi sekarang teramat susah bagi PLN untuk mendapatkan ‘bahan bakar’, selain harga yang selangit juga ketersediannya sudah menipis. Nah sekarang kamu sudah di bangku SMU. Pasti kamu tau apa bahan bakar untuk menghasilkan listrik?”

“Gas Alam dan Batubara, Bu!”

“Nah itu kamu tau. Setiap tahun harga minyak cenderung naik dan pemakaian listrik dinegara kita juga tinggi. Itu juga masalah di PLN”
Aku mengangguk setuju. “Betul Ibu kamu, Rin! Saat ini PLN sedang butuh banyak batubara supaya listrik yang mengalir di rumah-rumah penduduk bisa stabil dan mengurangi pemadaman”

“Supaya pemakaian listrik di PLN tidak tinggi, kita harus mengurangi pemakaian listrik dong, Tan?”

“Tepat!. Jadi penghematan itu selain membantu PLN kelebihan beban juga tagihan listrik setiap bulan bisa berkurang. Sebenarnya PLN sudah meluncurkan penggunaan listrik dengan sistem pra bayar, namanya ‘Listrik Pintar’, maksudnya memakai listrik tapi bayarnya dengan isi pulsa terlebih dahulu, seperti pulsa handphone gitu. Sepertinya bagus itu untuk dipakai kelas rumah tangga seperti Ibumu ini, kalau Tante pikir banyak sekali keuntungannya antara lain seperti:
1.penggunaan listrik bisa diatur
2.membeli pulsa sesuai kebutuhan, kalau kurang tinggal isi pulsa lagi
3.bila lupa bayar tagihan, gak takut didatangi petugas

“Oya Bu, setiap pulang sekolah Rini sering melihat mobil PLN trus dibelakangnya ada tulisan “PELAYANAN TANPA SUAP” apakah itu berhubungan dengan GCG anti korupsi PLN yang tadi beritanya muncul itu?”


“Iya. Itu salah satu wujud komitmen PLN dalam bersungguh-sungguh menerapkan Good Corporate Governance alias GCG. Semua itu dilakukan supaya masyarakat tahu bahwa PLN sekarang berusaha untuk adil dan transparan dalam melayani masyarakat. Bila ada masyarakat yang diperlakukan tidak adil dilapangan mereka bisa datang ke kantor PLN untuk meminta penjelasan secara detail.”

“Hmm.. masih ribet ya Bu? Kenapa PLN tidak sering-sering mengadakan sosialisasi kepada masyarakat yang sebagian besar pelanggannya terkait hak-hak yang mestinya didapatkan sehingga bila sewaktu-waktu ada kejadian pelanggan sudah mengerti harus bertindak bagaimana. Selama ini yang Rini tau petugas PLN setiap bulan mencatat meteran rumah kita, tetapi PLN tidak pernah mengirim surat tagihan bulananya sehingga pelanggan sendiri yang harus pintar mengira-ngira pengeluaran listrik setiap bulannya. Bukankah bila PLN mengirimkan surat tagihan setiap bulannya kepada pelanggan, itu berarti sudah termasuk sosialiasi? PLN kan bisa memberikan pengumuman maupun keterangan dibagian bawah atau belakang lembar tagihan. Syukur-syukur bila PLN melengkapi surat tagihan itu dengan selebaran mengenai kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan PLN. Biar PLN semakin dekat dengan masyarakat begitu.. ”

“Pinter kamu, Rin. Sudah mulai jadi kritikus nih ponakan Tante..” aku tersenyum sambil tanganku mengacak-acak rambut Rini. Rini tersenyum sambil menaik-naikkan alisnya, lalu mencomot tahu goreng dipiring. “Tapi jangan salah lho, biar begitu PLN sudah memberi banyak informasi melalui website. Nama websitenya www.pln.co.id dan www.plnbersih.com. Di website itu pelanggan bisa mendapatkan banyak sekali informasi seperti layanan online yang meliputi info tagihan rekening, penyambungan baru, perubahan daya, atau penyambungan sementara. Warta tentang seputar PLN dan informasi menarik lainnya juga tersedia di sana. Kalau mau follow twitternya PLN juga bisa lho Rin.. twitternya @pln_123, katanya mau dekat dengan petugas PLN? ” godaku

“Iya sih Tan, tapi kan tidak semua masyarakat kita familiar dengan penggunaan internet” elak Rini.

"Duh anak Ibu sudah mulai pintar berdebat nih..” ujar Mbak Is seraya menuangkan sayur ke mangkok.

“Iya nih Mbak, Rini sudah mulai pintar, bisa diajak diskusi” kataku memuji.

“Hmm.. kamu ada betulnya sih..” Aku berusaha mengakui hasil pemikiran Rini.

“Oya, Bu, bukankah praktek suap bisa dilakukan dimana-mana dan oleh siapapun. Kalau atasan PLN menegakkan GCG sedangkan petugas lapangan masih ada yang nakal, percuma saja dong, Bu. GCG tidak akan berjalan maksimal”

"Rin, Pejabat dan petugas PLN itu manusia. Dan manusia tidak ada yang sempurna. sedangkan kita, sebagai salah satu pelanggan PLN juga tidak mau ada praktek-praktek seperti itu, tetapi bila pelanggan seperti kita mau kritis dan berpikir dengan jernih, mau mengikuti prosedur yang berlaku semestinya maka praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme tidak akan terjadi. Selama ini pelanggan kan maunya cepet dan beres tapi tidak mau repot sehingga mereka memanfaatkan ‘orang dalam’ untuk pengurusannya dengan memberi imbalan sekian rupiah, kalau sudah begitu siapa yang rugi? Pelanggannya sendiri, kan?
Eh, ngomong-ngomong sejak pulang sekolah kamu belum cuci kaki dan tangan ya, tapi sudah mencomot tahu goreng, gimana sih? Ayo sana cuci tangan dan kaki dulu!” Seru Mbak Is sembari menjauhkan piring berisi tahu goreng asin bikinannya. Aku dan Rini tertawa bersama.

“Nanti aja deh,Bu. Tanggung nih ngobrolnya. Kalau nanti ditinggal jadi gak seru lagi dong!”

“Lalu seandainya Tan, pelanggan sudah kritis tapi masih saja ada petugas PLN yang nakal bagaimana mengatasinya dong?”

“Kalau itu tergantung dari manusianya, Rin. Barangkali saja para petugas PLN itu harus sering-sering diikutkan workshop dan pengkajian tentang baik buruknya praktek KKN sekaligus menyadarkan mereka bahwa KKN itu tindakan tidak baik. Tetapi seandainya sudah diadakan pelatihan dan pengkajian seperti itu dan masih saja ada oknum yag berbuat ya itu terserah mereka, tanggung jawabnya kan kepada yang diatas. Yang terpenting masyarakat juga harus berhati-hati menghadapinya. Seperti jargon Bang Napi itu lho Rin, "Waspadalah.. kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelaku tetapi juga karena adanya kesempatan!” kataku meniru gaya Bang Napi. Rini dan Mbak Is ikut tertawa.

“Hahaha..Tante ini bisa saja.. tapi memang betul sekali itu, Tan” seru Rini seraya tertawa.

“Hush!” Bu Agus mengabaikan tangannya diudara. “Makanya Rin kamu belajar yang pintar, ini tugas kamu sebagai penerus bangsa. Kalau tidak ada anak muda yang sekolah pintar siapa generasi penerus kita selanjutnya, yang cerdas memikirkan solusi demi kepentingan masyarakat. Sedini mungkin kamu harus berpikir bagaimana urusan perlistrikan di negara ini bisa tuntas, kekayaan alam seperti gas bumi dan batubara cadangannya mulai menipis sedangkan berjuta masyarakat kita membutuhkan aliran listrik. Haruskah negara ini selalu impor bahan bakar? Tidakkah harga nya sangat mahal? Kamu nggak mau kan seandainya sepuluh atau dua puluh tahun lagi negara kita ini hanya mengandalkan petromak dan oblik (lampu minyak) sebagai penerangan? Masak iya dinegara kita yang sekarang berkembang tapi dua puluh tahun lagi mengalami kemunduran”

“Rini nggak mau dong, Bu! Mungkin Rini akan mencoba membuat terobosan baru seperti mengandalkan tenaga matahari sebagai pengganti gas alam dan batubara. Baru-baru ini ada teman Rini membuat percobaan listrik dengan menggunakan pembangkit tenaga surya, dan telah diuji cobakan disekolah. Tanggapan guru-guru dan semua teman Rini tentu saja sangat antusias”

“Oya? Bagus dong kalau begitu! Perlu di contoh itu Rin!”

“Tapi dengar-dengar Tarif Dasar Listrik mau naik ya Bu?”

“Hmm.. Ibu dengar sih begitu. Semoga PLN dan pihak terkait mempertimbangkan lagi sudah pantaskah kenaikan TDL itu diberlakukan. Kalaupun harus naik ya bagaimana lagi, dibilang tidak setuju sih tidak setuju tetapi itu kan demi masyarakat pelanggan juga. Dan bila memang harus naik harapan kita semua tentu saja PLN harus mampu meningkatkan kualitas pelayanannya, sebisa mungkin menstabilkan tegangannya serta meminimalisasi pemadaman”.

“Oh Rini paham sekarang, Bu. Jadi mulai sekarang Rini akan berusaha semaksimal mungkin mengurangi penggunakan listrik dirumah. Kalau tidak terpakai Rini akan segera matikan demi membantu Ibu menguragi beban tagihan juga membantu PLN mengurangi pemakaian bahan bakar, bukan begitu kan, Bu? Lalu ngomong-ngomong rumah siapa Bu yang sedang pasang baru listrik?”

“Rumahnya Bu Indra, tetangga sebelah yang selama ini masih mengalirkan listrik dari rumah kita. padahal baru 3 hari lalu Bu Indra mendaftarkan pasang baru di PLN, hari ini langsung ditindak lanjuti”.

“Wah.. Pelayanan PLN makin cepat ya mbak? Rasanya PLN sudah mulai membuktikan diri memenuhi komitmennya” Selaku. Mbak Is mangangguk mantap.

“Rin..rin.. sudah sana kamu ganti baju dulu, nasi dimeja nanti keburu dingin..” perintah Mbak Is kepada Rini yang sedang berusaha meraih piring tahu, dan Mbak Is dengan cekatan menarik piring itulebih dekat kearahnya. Aku tertawa melihat Ibu dan anak rebutan piring.

“Inggih, Bu...” Rini langsung ngeloyor pergi. Dan Mbak Is hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap anak perempuan satu-satunya itu.

“Ngomong-ngomong ya Mbak, obrolan kita tadi tentang PLN seru lho ya. Kalau begitu aku mau posting di blog ah, kebetulan sekali sudah lama aku belum nulis postingan baru. Momennya kan tepat, bulannya pas dengan Hari Listrik Nasional Blogger satu ini, bisa aja kalau nyari ide..” ledek Mbak Is. kemudian kami tertawa bersama...




Sebagian sumber tulisan diambil dari: www.plnbersih.com dan www.pln.co.id

Kamis, 31 Mei 2012

Buku No. 1

Ngontes lagee..
Di Blognya Mbak Echa ada kuis cepet-cepetan milih buku, siapa cepat dia dapat. Sebenarnya saya terbilang ketinggalan sih karena buku-buku menarik sudah keduluan teman-teman, tapi gak papa dari beberapa buku seperti Stupid Bos saya sudah punya lengkap. Dan karena setelah di stock opname bukunya tinggal No 1 dan 13 yang belum di take ya sudah saya pilih itu aja..

Buku No. 1
Di foto itu buku no 1 tidak seberapa jelas judulnya, yang masih nampak hanya tulisan Obama. Setelah di browsing saya tidak menemukan buku yang bergambar sama, barangkali saja saya nulis keywordnya kurang jelas, jadi si Mbah Google juga ikutan pusing mikirnya.

Selain buku yang bergenre komedi saya juga suka membaca buku tentang sejarah perjalanan orang terkenal. Bila dikemas dengan bahasa yang ringan membaca biografi seseorang sangatlah tidak menjenuhkan. Dibanding novel yang bahasanya terlalu sastra, malah pusing bacanya, gak ngerti maksudnya...

OKelah setelah saya timbang-timbang untuk buku ke 2 saya milih buku No. 1

Raihlah Mimpi dengan Ngeblog!

Waktu mampir di blognya Melly saya baca postingan tentang review buku dan ternyata review itu kontes berhadiah buku yang diadakan di blognya Mbak Echa di http://echaimutenan.blogspot.com. Pas saya buka ternyata hadiahnya la semua sodara.. hanya tinggal 2 buku saja. Ya sudahlah saya pilih buku "Gratis keliling Indonesia & Belajar di luar negeri karena ngeblog"

Saya browsing judul buku itu di google ternyata isinya menarik sekali. Buku itu menceritakan Nonadita seorang Blogger yang berhasil meraih mimpinya jalan-jalan keliling Indonesia dan meraih Bea siswa di Amerika hasil dari ngeblog!
Siapa sih yang gak ngiler membaca semua itu, dan ini membuktikan bahwa ngeblog bukan kegiatan sia-sia, masih banyak diluar sana orang yang berhasil mendapatkan sesuatu hasil dari ngeblog.

Beberapa hari lalu seorang teman blog saya yang berdomisili di Bandung juga berhasil memenangkan hadiah jalan-jalan gratis ke Korea namanya Mbak Erry. Baca berita itu saya seperti gak percaya, senang, bangga juga gimana ya.. terharu sekali..

Jadi? Ayo ngeblog mulai sekarang, dan raihlah mimpimu!!

Rabu, 25 April 2012

Bunda Lia sang Peternak Bebek

Sosok cantik Kartini modern dimata saya adalah Bunda Lia, seorang teman lama yang sekarang sedang sibuk merawat 2 anak laki-laki dan mengurusi kandang miliknya yang berisi bebek berjumlah lebih dari 100 ekor.

Usianya belum 30 tahun, dan dia sengaja membuat kandang bebek dengan alasan selain untuk diternakkan sebagai bebek potong dia juga berharap agar ilmu yang pernah dienyam di Institut Pertanian Bogor dapat bermanfaat.

Walaupun dia harus rela meninggalkan rumahnya sendiri yang nyaman di Sidoarjo lalu berpindah ke sebuah tanah kosong yang disulap menjadi beberapa sekat untuk tempat tinggal bebek-bebeknya dan disekat lainnya sebagai tempat tinggal keluarganya tetapi Bunda Lia sangat telaten. Panasnya hawa didalam rumah karena beratapkan asbes tak membuat Bunda Lia patah semangat. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya seorang Ibu yang bekerja sendirian mengurus bebek sekaligus merawat dua putranya, sedangkan Suaminya masih tercatat sebagai karyawan di sebuah kantor swasta, Bunda Lia harus bekerja keras agar bebek-bebek itu tidak mati kepanasan bila siang hari dan tidak mati kedinginan bila malam hari.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes “Blogger Kartinian” bersama 21BloggerKartini”

Peternak Bebek


Foto diatas adalah gambar teman saya yang bernama Bunda Lia. Bunda Lia ini disamping merawat 2 anak yang semuanya laki-laki juga mengurus kandang bebek miliknya yang berjumlah 100-an.

Bayangkan betapa repotnya Bunda Lia. Pagi-pagi dia sudah harus memberi makan bebek-bebeknya, siang sedikit sekitar jam 8-9 dia sudah menyalakan blower untuk mendinginkan bebeknya agar tidak kepanasan yang mengakibatkan bisa tiba-tiba mati.

Siang memberi makan bebeknya lagi, sore memberi vitamin dan malamnya menyalakan lampu untuk menaungi bebeknya agar tak mati kedinginan.

Sayang waktu saya potret Bunda Lia tak mau menoleh ke kamera katanya malu, mukanya berkeringat. Maklumlah, sejak mengurus bebek Bunda Lia tinggal di sebuah bangunan dari dinding triplek dan beratap asbes, sehingga hawanya panas sekali..


Kamis, 23 Februari 2012

Sayang ala Bang Thoyib



“Bang Thoyib-Bang Thoyib
kenapa tak pulang-pulang..”


Lirik diatas sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat kita. Beberapa saat yang lalu ketika masih booming-boomingnya, setiap saat setiap waktu lagu ini selalu terdengar dimana-mana. Sambil ngonthel becak, yang didengar lagu ini. Sambil liyer-liyer setengah ngantuk, yang disetel lagu ini. Sampai panggung lokal ala Sagita aja, yang dinyanyikan juga lagu ini.

Benar-benar fenomenal. Memang selain rancak musiknya lagu Bang Thoyib yang beraliran dangdut asoy ini sangat asyik dinikmati sambil ajeb-ajeb.
Ibarat orang sedang jatuh cinta, kalau sudah kadung cinta dengan satu gebetan, maka semuanya akan selalu diingat. Dari suaranya, namanya, gayanya, senyumnya, jalannya sampai detail jari kakinya juga diingat-ingat. Sambil senyum-senyum sendiri dan matanya merem-melek.

Itulah Cinta. Bila ada sesuatu yang menarik, maka akan selalu diperdengarkan kalau perlu sampai lirik dan nama penyanyinya dihapalkan juga fotonya dipajang dimana-mana.

Sayangnya, Bang Thoyib terlalu sibuk sehingga tak sempat mendengarkan lagu ini. Dia gak merasa bahwa anaknya memanggil-manggil nama nya terus. Dia juga gak merasa bahwa sudah 3 kali puasa dan 3 kali lebaran si Abang gak pulang kerumah, sekalipun para pendengar lagu ini membantu mencari kemana gerangan Bang Thoyib ini berada..
Barangkali saja, di perantauannya sana Bang Thoyib sedang sibuk bekerja sampai-sampai tak mengenal waktu dan tak mengenal kapan jadwalnya puasa dan lebaran..

Bang Thoyib bukanlah seorang penjaja cinta. Dimana cinta bisa dimiliki kapanpun walau terbatas oleh waktu. Tetapi rasa sayang sampai kapanpun dimiliki tak akan mengenal waktu. Bila rasa cinta dipadukan dengan rasa sayang maka akan menghasilkan buah kasih sayang yang tulus, ikhlas, saling membutuhkan dan saling memiliki.
Yang lain? Lewaatt..

Bang Thoyib mempunyai tekad besar bahwa suatu saat bila pulang nanti dia harus membawa sebongkah berlian untuk istrinya tercinta sebagai bukti rasa cinta dan sayang kepada keluarganya. Bang Thoyib yakin bahwa apa yang dilakukannya selama kepergiannya itu benar-benar untuk mencari nafkah demi istri dan anak-anaknya.
Seperti di lagunya Wali

sudah tunggu saja diriku di rumah
jangan marah-marah, duduk yang manis ya
aku lagi sibuk sayang, aku lagi kerja sayang
untuk membeli beras dan sebongkah berlian


Jadi..
Berita bahwa Bang Thoyib gak pulang-pulang bukan berarti Bang Thoyib ini gak sayang sama istri dan keluargaya. Justru dengan karena gak pulangnya itu Bang Thoyib ingin membahagiakan keluarganya.

Bayangkan, Bro.. sebongkah berlian! Se..Bo.. ng.. Kah..Be.. R..Li..An... ckck..

Ini semua bukti bahwa Bang Thoyib akan sepenuh hati menjaga, melindungi serta bertanggung jawab kepada istri dan keluarganya sampai kapan pun. Dan itu semua Bang Thoyib lakukan atas dasar sayang.

Bagai Berlian..
Selamanya dan Abadi..

Minggu, 05 Februari 2012

Rayuan tidak biasa

Rayuan tidak biasa


Sayangku..
Pulang kantor kau mau kemana?
Please ya jangan kemana-mana, pergi ke hatiku aja

Kasihku..
Aku tau Bapak kamu itu hobi mendaki gunung
Maka setiap melihatmu, hatiku bermekaran bagai bunga edelwais yang tak pernah layu

Cintaku..
Aku tau Ibumu seorang pemilik Catering
Oleh karenanya senyummu bagai Gurami asam manis yang memanjakan lidahku

Kekasihku aku sangat sayang kepadamu
Aku juga sangat mencintaimu
Dan aku akan selalu menyayangimu
Baru kusadari, ternyata kamu itu punya bakat jadi penabuh bedug masjid
Coba tanya kenapa?
Karena bila ada kamu disampingku dadaku selalu bertalu-talu




“Ungkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTML“